Sejarah Letusan Gunung Bromo

Written By airlandz efarda on Monday, 11 March 2013 | 10:56




Nama Gunung Bromo diambil dari bahasa Sansekerta yaitu Brahma (salah seorang Dewa Utama Hindu). Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur.
Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi aktif dan mempunyai panorama alam yang indah dengan lautan pasirnya yang sangat luas.


Kawah Bromo
Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut, Gunung Bromo juga mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.


Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.


Bromo sedang aktif di awal abad ke-20. Foto koleksi KITLV
Selama abad ke-20, gunung yang terkenal sebagai tempat wisata itu meletus sebanyak tiga kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada 1974, sedangkan letusan terakhir yang masih dalam status awas sampai sekarang terjadi pada tahun 2010 ini.

Sejarah letusan Bromo terjadi pada 2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1040, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775, dan 1767.


Foto satelit Gunung Bromo dari NASA
Bromo merupakan salah satu gunung berapi strato tipe A dan terletak di dalam Kaldera Tengger. Ini merupakan gunung berapi termuda dalam jajaran di kaldera Tengger, seperti Gunung Widodaren, Kursi, Segorowedi, dan Batok. Kaldera Tengger sendiri berukuran 9 x 10 kilometer, dikelilingi oleh tebing curam dengan ketinggian 50 sampai 500 meter.

Jajaran gunung di dalam kaldera dikelilingi oleh batuan vulkanik gunung Tengger Purba. Lantai kaldera bagian utara tersusun oleh batuan pasir, sementara bagian timur dan selatan kaldera didominasi oleh rerumputan.
Selain memberikan dampak bencana ketika terjadi aktivitas vulkanis di Bromo, sisi positif keberadaan gunung berapi ini juga dapat kita lihat berupa inventarisasi sumber daya gunung berapi, seperti objek wisata alam.


Tangga menuju puncak Bromo
Gunung Bromo bisa dicapai melalui beberapa cara, yaitu melalui lintasan Probolinggo, Sukapura, Ngadisari sampai ke Cemoro Lawang yang merupakan dinding Kaldera Lautan Pasir yang dapat dilakukan dengan kendaraan bermotor, kemudian dilanjutkan dengan lintasan melewati lautan pasir.

Pendakian ke puncak dan pematang kawah dapat dilakukan dengan mudah melalui tangga tembok yang tersedia. Lintasan yang kedua yaitu melalui Pasuruan, Tosari, Jurang Munggal, Lautan Pasir sampai tangga Bromo. Jalur berikutnya yaitu lewat Malang dan Lumajang. Ini jalur adventure hanya bisa dilewati motor atau fourwhell drive. Dari arah Malang via tumpang, dari Lumajang via tempeh. Dua jalur bertemu di dinding selatan Bromo


Upacara adat suku Tengger di kaki Gunung Bromo
Bagi penduduk Bromo yaitu suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...